FF Sungjin DAY6| Fate : Saranghaeyo Geomsa (Part 1)

 

 

Title            : Fate (Saranghaeyo Geomsa) Part 1

Author       : Hilda Hermawati

Genre         : Romance, Crime

Main Cast  : Park Sungjin Of DAY6

Park Yerim (Oc)

 

Nb : Sebenernya ff ini terinspirasi dari drama Korea “Secret Forest”, yang pecinta drama korea pasti tau. Aku bikin ff ini setelah ngerasa jatuh cinta sama tokoh Hwang Si Mok yang diperanin sama Cho Seung Woo Ahjussi, dan gak tau kenapa dia disini keliatan ganteng banget heheeh.

Jadi sebelumnya aku mau perkenalan karakter dulu biar ceritanya jelas.

Park Sungjin of DAY6 ak.a : Park Sungjin Geomsa, dia ini seorang jaksa berumur 25 tahun yang pendiam dan memiliki kepribadian yang dingin. Dan ia menjadi jaksa yang bertugas menyelesaikan dua kasus yang menimpa Yerim . Ia belum pernah jatuh cinta pada siapapun sebelum Park Yerin datang di kehidupannya.

Park Yerim                             : Seorang mahasiswa tingkat dua berusia 20 tahun yang kehilangan kedua orang tuanya, dan hampir meninggal karena kecelakaan, ia sebenarnya gadis biasa pada umumnya.

-o0o-

Cahaya merah itu melahap benda apapunbg ada disekelilingnya.Merangkak cepat tanpa rasa takut. Setiap benda yang ia sentuh menghasilkan suara yang mengerikan. Asap mengepul memenuhi hamparan langit yang gelap, seolah seseorang tengah menikmati sebatang rokok terbesar yang pernah ada.

Ya. Rokok itu rumahku.

Rumahku terbakar.

Dan aku hanya mampu terduduk lemas di depan gerbang rumahku tanpa bisa melakukan apapun.

Orang orang berseragam orange itu tak henti-hentinya menyiramkan beribu ribu liter air ke arah rumahku yang terbakar.

Suara sirine polisi dan ambulan memenuhi setiap sudut komplek rumahku bersambut dengan suara para tetangga yang sejak tadi tak bisa membungkam mulut mereka. Bahkan para wartawan pun tak bisa menghilangkan cahaya blizt mereka dari arahku dan ratusan pertanyaan mereka yang sangat mengganggu telingaku.

Bagaimana tidak, rumah seorang Jaksa Agung tiba tiba terbakar di malam ketika ia baru saja dilantik pada siang harinya. Dan akibat kebakaran itu nyawanya dan nyawa istrinya tak bisa lagi terselamatkan.

Tentu saja itu Appa dan Eommaku.

Mereka baru saja berhasil di evakuasi. Aku menjerit dan tak bisa menahan tangisku saat kulihat kedua orang tuaku di bawa keluar dari rumah dengan jasad yang tak bisa dikenali lagi. Aku kehilangan kendali dan tak sadarkan diri.

Disaat terakhir saat aku belum sepenuhnya ambruk dan jatuh , seseorang menahan tubuhku agar aku tak jatuh ke tanah. Tatapannya sangat dingin namun tersirat rasa kesepian yang begitu dalam di matanya. Kemudian semuanya benar-benar  gelap.

Aku tahu, inilah yang dinamakan takdir. Sebuah garis takdir yang tak mungkin kuhindari. Aku bertemu dengannya melalui peristiwa paling mengerikan dalam hidupku. Ketika Tuhan mengambil kembali sesuatu dari kita yang memang miliknya maka percayalah Tuhan akan menggantinya lagi untuk kita.

Ketika Appa dan Eommaku diambil lagi oleh-Nya, Tuhan menggantinya dengan seseorang  berharga yang lain di hidupku.

Dia Park Sungjin.

—–ooo—

Pelaku pembakaran  rumahku tertangkap. Dan dua hari lagi adalah sidang pertama kasus itu. Aku masih berada di rumah sakit untuk memulihkan diriku dari trauma akibat kecelakaan yang menimpa keluargaku.

Proses pemakaman kedua orang tuaku telah dilakukan hari kemarin, dan hari itu adalah hari yang paling berat selama aku hidup.

Seseorang membuka pintu kamarku di rumah sakit, dan ia masuk ke dalam. Ia tersenyum sekilas kearahku. Dan tatapannya terasa dingin.

“Halo, saya Park Sungjin dari kejaksaan Seoul Barat.” Ia mengeluarkan tanda pengenal jaksa dari balik coatnya.

Aku memgangguk. “Iya, ada apa goemsannim?”

“Boleh aku duduk?” Ia bertanya kearahku dan matanya melirik kearah kursi yang berada di samping tempat tidurku sekarang.

Aku mengangguk cepat, dan ia duduk. Ia berdehem. “Apa kau tidak keberatan aku bertanya beberapa hal padamu?”

“Apa ini mengenai kematian kedua orang tuaku?” Entah mengapa mataku tiba-tiba memanas dan dadaku sesak.

“Ne. Kesaksianmu sangat penting pada kasus ini agar tersangka benar benar bisa aku pidanakan.”

Dan didetik itu juga aku menangis, kuceritakan secara detail apa saja yang aku lihat di tkp.

Saat kejadian aku baru saja pulang dari kampusku, sebelunya aku sempat berbicara dengan ibuku lewat telepon bahwa ia dan ayahku sedang menungguku di rumah untuk merayakan terpilihnya ia menjadi Jaksa Agung. Namun telpon terputus tiba-tiba,  aku sempat mendengar ibuku menjerit, aku panik dan segera berlari untuk sampai ke rumahku. Tapi semuanya terlambat. Rumahku terbakar dan kedua orang tuaku tak dapat diselamatkan.

“Apa kau sempat melihat seseorang atau siapapun yang mencurigakan di sana?”

“Ya, aku sempat melihat sebuah mobil pergi sesaat setelah aku datang, padahal jarang sekali orang menyimpan mobil di jalan itu, karena hanya rumahku yang berada di ujung komplek.”

Ia mengangguk-ngangguk. “Apa kau ingat no plat kendaraannya?”

Aku menggeleng, kemudian menangis lagi dan lagi. Tak sanggup membayangkan betapa kesakitannya orang tuaku saat itu.

Jaksa itu bangkit dari duduknya, dan menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna coklat dengan motif garis-garis  kearahku.

“Terima kasih atas kesediaanmu menjawab pertanyaanku. Aku pamit” Ia menundukan kepalanya lalu pergi dari kamarku tanpa mengatakan apapun lagi.

Aku meremas sapu tangan pemberiannya dan menangis lagi, memecah sunyinya ruangan kecil itu.

—o0o—

Aku menjadi saksi di sidang kasus kebakaran dan kematian kedua orang tuaku sendiri. Meskipun sangat berat sampai sampai menggerakkan bibirku pun rasanya sangat sulit. Dan aku sangat beesyukur karena sidang itu berjalan dengan lancar berkat jaksa penuntut yang waktu itu menemuiku.

Meskipun sebenarnya sulit kuterima mereka hanya di vonis dengan 10 tahun penjara karena mereka mau bekerja sama saat proses interogasi berlangsung. Dan motif mereka melakukan semua kejahatan tak termaafkan itu adalah perampokan. Mereka membakar rumahku untuk menghapus jejak ,  dan berfikir bahwa kedua orang tuaku tak berada di sana saat itu. Sungguh Biadab!!.

“Aku berterima kasih  banyak padamu ,Park Geomsa .. Aku harap sekarang kedua orang tuaku bisa tenang di sana sekarang berkat anda” Dan entah berapa kali aku membungkuk padanya untuk mengucapkan terima kasih saat sidang itu selesai.

Ia hanya berdiri di depanku tanpa mengatakan sepatah katapun dengan sebuah buntelan kain berwarna pink  berisi berkas berkas kasus di tangan kirinya.

Wajahnya tanpa ekspressi. Bahkan rambutnya pun terlihat kaku. Namun ia sangat tampan dan berkharisma. Ia lalu menepuk pundakku dua kali dan pergi meninggalkanku.

Aku meninggalkan pengadilan dan berjalan entah akan kemana. Karena aku kini tak punya tempat tinggal, dan semuanya habis terbakar. Aku tak memiliki siapapun lagi di kota Seoul ini, aku bahkan kehilangan ponselku saat kejadian jadi aku tak bisa menghubungi temanku.

Aku duduk di halte bus, membuka ranselku dan melihat tasku untuk memeriksa dompetku. Dan sialnya aku ingat pada hari kejadiaan aku meninggalkan dompetku di rumah. Membayar biaya rumah sakit pun aku menggunakan klaim asuransi. Dan untuk sekedar naik taksi atau bis pun aku tak punya uang.

Aku masih duduk di halte bis dan menghabiskan waktu  hampir 4 jam di sana, dan entah berapa banyak bis yang datang ke halte, juga aku tak tahu berapa banyak orang yang yang telah datang dan pergi dari halte ini.

Aku merindukan Appa dan Eomma.

Langit mulai gelap dan lampu lampu mulai menggantikan tugas matahari memberikan cahaya untuk manusia. Saat itulah aku melihat sesosok yang kukenali berjalan menuju kearah halte bis.

Dia Jaksa Park Sungjin. Dia berjalan tanpa ekspressi dengan sebuah ransel di punggungnya. Aku rasa Tuhan mengirim dia untuk menolongku saat ini.

Aku bangkit dari dudukku dan merasakan punggungku sakit karena terlalu lama duduk. Aku berniat untuk menyapanya dan meminta bantuan padanya.

Ia akhirnya sampai tepat di depanku, dan kuberanikan diri untuk menyapanya. “Halo, Park Geomsanim, kita bertemu lagi..”

Dia mengangguk “Halo” jawabnya.

“Anda baru mau pulang?”

“Ya.” Jawabnya lagi tanpa perubahan ekspressi, hanya dua alisnya yang terangkat, dan itu seolah mengatakan ‘Apa urusannya denganmu?’

Augh. Kenapa dia dingin sekali sih?

“Emh.. anu..” arrrgh.. !! Aku bingung harus mengatakan apa padanya dengan ekspressi dia seperti itu.

“Kau butuh sesuatu?”

Nah. Ini dia.

“Geomsanim, aku kehilangan dompetku..”

Dia merogoh saku coatnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang untukku.

“Ini pakailah..” dan lagi-lagi ia pergi begitu saja setelah aku menerima uangnya tanpa sempat mengatakan apapun.

“Geomsanim tunggu!” aku mencoba menahan langkahnya dan itu berhasil.

Dia membalikkan badannya.

“Aku juga tak tahu harus pulang kemana” Meskipun aku malu mengatakannya, namun aku sama sekali tak ingin menghabiskan malam di jalanan. “Mohon maaf jika aku mengatakan ini, tapi aku tahu geomsanim dulu adalah anak buah ayahku, jadi bisa tolong aku sekali lagi?”

Aku pernah melihatnya datang ke rumahku tiga kali untuk makan malam, dan aku saat itu mendengar ayahku mengatakan bahwa ia orang yang baik. Jadi aku ingin percaya padanya.

Dia tampak berfikir.

“Apakah aku boleh menginap di rumahmu?”

Dan itu pilihan terakhir yang kubuat, Tunggu! Jangan berfikir aku wanita murahan yang sedang menggoda seorang laki laki tampan di jalan, tapi ini kondisinya sangat mendesak.

Dia tercengang. Ekspressi baru yang aku lihat.

“Kumohon izinkan aku, satu malam saja dan besok sebelum pergi aku berjanji akan membeesihkan rumah mu terlebih dahulu.”

Dan dia mengangguk tanda ia mengizinkanku tingga satu malam di rumahnya.

–o0o–

Dia  tinggal di sebuah apartemen yang tak terlalu besar. Apartemennya sangat bersih. Auranya terasa begitu dingin dan sepi. Bahkan ia tak menyalakan lampunya saat kami masuk.

Park Sungjin masuk ke kamarnya, aku duduk di sofa dan merasa sangat canggung. Aku berharap dia benar-benar orang baik yang tidak akan macam-macam denganku.

Dia keluar lagi dari kamarnya, lalu berjalan ke sebuah pintu yang aku yakini kamar mandi. Aku masih duduk di tempatku tanpa melakukan apapun dalam keadaan hanya lampu meja yang menyala. Ada rasa sesal meminta tolong padanya jika aku tahu dia bakal sedingin ini.

Beberapa menit kemudian dia telah selesai, dia keluar dengan mengusap-ngusap rambutnya yang terlihat agak basah dengan handuk.

Aku bangkit dari dudukku.

“Emm..”

 Aku harus mengatakan apa padanya? Sejujurnya aku sangat ingin mandi, berganti pakaian, dan tentu saja aku lapar.

“Kau bisa tidur di kamarku.”

“A…ap..apa.? Ah tidak perlu Geonsanim.. aku bisa tidur di sofa ..” aku tergagap.

“Jangan salah paham. Aku mengizinkanmu tidur di kamarku, karena aku tak pernah tidur di sana”

“Eh. Kenapa?”

Dia pergi dari hadapanku tanpa menjawab pertanyaanku dengan ekspressi dinginnya, kemudian masuk ke sebuah ruangan dan menutup pintunya.

Aku menghela nafas panjang. Sepertinya tinggal disini lebih buruk dibanding tinggal di jalanan.

Aku masuk ke dalam kamarnya yang sama-sama memiliki aura dingin dan sepi. Tempat tidurnya sangat rapi dan itu jelas menggambarkan bahwa seseorang belum pernah tidur di sana.

Aku ingin sekali mandi, dan aku tak memiliki pakaian gantinya. Argh. Serba salah sekali, haruskah aku meminjam baju padanya? Seorang pria dewasa pasti menyimpan beberapa pakaian kekasihnya di rumah.

Aku keluar dari kamar dan pergi ke tempat Park Sungjin. Aku mengetuk pintunya dan mencoba membukanya. Aku melihat Sungjin sedang duduk di  depan sebuah meja dengan beberapa tumpuk kertas di depannya.

“Um, permisi.. maaf aku mengganggumu.”

Ia mengalihkan perhatiannya padaku. “Ya. Ada apa?”

“Apa aku boleh meminjam pakaianmu?Aku ingin mandi dan tidak punya baju ganti..”

Dia menatapku. “Tolong keluar dari sini.”

Aku terkejut mendengar jawabannya. Dia mengusirku.? Ya Tuhan! Manusia macam apa dia?

Dia bangkit dari duduknya. “Maksudku tolong tunggu di luar dan aku akan mengambil baju untukmu.”

“Ooh.. maaf..” aku mundur beberapa langkah untuk keluar dari ruangannya. Aku bisa mengerti karena mungkin ruangan itu sangat privasi untuknya, dan bodohnya aku berfikir bahwa ia mengusirku dari rumahnya.

Sungjin  keluar dari ruangannya dan masuk ke dalam kamarnya. Ia lalu keluar membawa sebuah baju.

“Ini pakai saja.”

Aku mengambik baju yang ia sodorkan padaku. “Apa kau tidak memiliki pakaian wanita di rumah ini?”

Dia menaikan alis kirinya.”Untuk apa aku menyimpan pakaian wanita? Aku ini seorang pria.”

Dia salah paham. “Ah begini maksudku, biasanya seorang pria dewasa menyimpan beberapa baju kekasihnya di rumahnya untuk berjaga-jaga jika ia datang ke sini..”

Dia terdiam. Dan sepertinya aku mengatakan sesuatu yang salah.

“Aku tak memiliki hal-hal seperti itu.” Ia berkata dengan nada dingin lalu membalikkan badannya dan masuk kembali keruangannya.

Cih. Apa dia itu vampir? Dingin sekali.

–o0o–

Aku terbangun pukul 6 pagi. Aku bergegas merapikan lagi tempat Sungjin, membersihkan rumahnya, ya meskipun tak ada sesuatu yang benar-benar harus kurapikan karena rumahnya sangat rapi. Lalu aku memasak beberapa makanan dengan bahan yang tersedia di lemari esnya untuk sarapan pagi.

Saat aku selesai merapikan meja makan, Sungjin keluar dari ruangannya dan tampak terkejut saat melihat meja makannya penuh dengan berbagai hidangan.

“Halo, selamat pagi.” Aku mencoba menyapanya dan ia hanya mengangguk kecil. Rambutnya sedikit berantakan namun pesonanya masih ada. Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar mandi dan mengganti bajunya dengan kemeja putih lengkap dengan jas dan dasinya.

“Silahkan sarapan dulu, aku membuatnya untukmu.” Aku mengajaknya untuk sarapan bersama.

Dia lalu duduk di kursi tepat di depanku, memperhatikan setiap hidangan yang tersaji di atas meja.

Selama sarapan, aku dan Sungjin sama sekali tak mengatakan sepatah katapun. Sungjin tampak menikmati sarapannya dan aku sangat bersyukur.

“Terima kasih makanannya. Setelah selesai membersihkannya, kau boleh pergi dari sini.”

“Iya..”

Dan dia pergi untuk bekerja. Rumahnya terasa semakin sepi. Aku merapikan meja makan, mencuci semua piring, mencuci bajunya yang kupinjam, dan bergegas pergi dari sana meskipun aku tak tahu harus pergi kemana.

Aku menulis stick note dan menempelnya di pintu kamarnya “Terima kasih karena mengizinkanku tinggal di sini, dan terima kasih juga untuk semuanya”

-o0o-

Beberapa bulan kemudian…

Aku kembali ke kampus. Semuanya mulai normal sekarang, tak ada lagi wartawan yang mengejarku dan diam-diam memotretku lagi. Aku juga bersyukur karena teman-temanku semuanya mendukung dan menyayangiku. Jadi aku merasa tak benar-benar di tinggalkan.

Aku menyewa sebuah kamar di atap. Jujur saja aku ingin menghemat biaya hidupku, meskipun aku sebenarnya mendapat asuransi atas kematian kedua orang tuaku juga tabungan kedua orang tuaku. Sebenarnya aku bisa saja membeli sebuah rumah atau menyewa sebuah apartemen. Tapi aku menyimpannya untuk biaya kuliahku dan untuk kuliah S2 nanti. Aku juga menjual tanah rumahku yang dulu terbakar karena tempat itu akan terus memgingatkanku akan kematian kedua orang tuaku.

Dan satu hal lagi, sebenarnya sejak dulu aku ingin mencoba hal-hal sederhana seperti ini. Seperti tempat yang kutinggali memiliki atap yang sedikit pendek, tak ada sofa, tak ada tv yang besar,tak ada tempat tidur yang mewah, lantai yang memakai pemanas ruangan, kamar mandi yang kecil, memakai kipas angin saat kepanasan, dan hanya memiliki kompor kecil untuk aku masak tanpa perlengkapan dapur yang lengkap ,bahkan aku tidur dilantai dengan tempat tidur yang bisa kulipat.

Aku hanya ingin mencoba untuk keluar dari zona nyamanku. Dan menurutku itu tak terlalu buruk, aku bahkan merasa agak lebih mandiri, dewasa, dan hebat.

Kadang aku juga memikirkan bagaimana kabarnya Sungjin sekarang? Apa dia masih dingin seperti biasanya? Atau lebih dingin? Dan apa ia makan dengan baik?. Saat terakhir kali aku memasak untuknya ia tampak sangat kelaparan dan merindukan masakan rumah.

-o0o-

Kufikir semua kengerian itu akan berakhir, namun siapa yang tahu?

Malam itu aku pulang agak larut dari biasanya, karena aku harus menyelesaikan beberapa tugas kuliahku di perpustakaan. Suasana parkiran saat itu nampak sepi, aku berjalan cepat menuju mobilku dan menyalakan mobilku . Namun saat aku hendak membuka pintu mobilku, sesuatu yang keras menimpa kepalaku.

Bugh!!

Kepalaku sangat sakit, aku kehilangan keseimbangan lalu semuanya gelap. Aku ambruk dan seseorang menarik tubuhku.

Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, saat aku membuka mataku dengan susah payah, aku berada di belakang jok mobil dengan keadaan terikat. Kepalaku  pening luar biasa. Samar-samar aku melihat seseorang berada dibalik kemudi mobil, ia menggunakan topi berwarna hitam dan mengenakan hoodie berwarna ungu gelap.

Aku diculik!

Aku berusaha keras untuk bangun dan melakukan apapun yang bisa kulakukan untuk pergi dari mobil pria jahat ini. Aku berhasi bangkit dan merangkak maju ke jok depan dan mengacaukan kemudinya.

Dia tampak terkejut dan berusaha mendorongku  kebelakang, mobil oleng dan aku terus mengacaukan kemudinya.

“Turunkan aku!!!!!!!” Aku masih berusaha melawannya

Ckiit.Ckit.Ckit.

Mobil tak terkendali.

“Lepaskan, bodoh! Kau ingin kita celaka!??” Pria itu mengumpat dan mendorongku untuk menjauh darinya.

“Aku memang sudah celaka!!”

Kepalaku semakin pening ketika ia berkali-kali memukul kepalaku dengan kepalan kerasnya dan aku terus melawannya.

Mobil kehilangan keseimbangan, dan kami tak menyadari sebuah bus melaju dari arah berlawanan, pria itu membanting kemudinya ke kanan dengan keras, dan kemudian terguling.

Bruuk.Brukk.

Tiiiin.

Tiinn.

Braak!!

Aku ikut terguling, dunia terasa berputar, kepalaku terantuk dengan keras, pria jahat disampingku juga sama kondisinya denganku. Ia merintih kesakitan lalu mencoba untuk keluar dari mobil yang telah terbaik. Aku mencoba untuk tetap sadar, namun aku tak lagi mampu menahan sakit disekujur tubuhku dan lagi-lagi semuanya gelap.

Disaat-saat terakhir aku sempat membayangkan wajah Park Sungjin, dan berfikir apakah ia akan menolongku lagi?

                                             -o0o-

 

Mohon komentarnya 🙂 Supaya aku lebih semangat melanjutkan ke part selanjutnya 🙂

 

 

4 Comments

  1. MelaniF

    18 Juli 2017 at 09:19

    Aq kira cuman aq yg bilang Hwang SI mok ganteng :p Nexxxt yaaaaaaaa!!

  2. pacar Sungjin

    20 Juli 2017 at 17:05

    Huwaah gak nyangka sungjin jadi jaksa . Sukaa kebayang dya kalemny

    1. nonakucing

      20 Juli 2017 at 17:19

      Hehe 🙂 Nyoba aja karakter dianya diginiin 😀

Leave a Reply